Kunjungi:

Selasa, 10 Februari 2015

amazarashi - Musim-musim pun Memati, Satu demi Satu [Kisetsu wa Tsugitsugi Shindeiku]


kisetsu wa tsugitsugi shindeiku zetsumei no koe ga kaze ni naru
iromeku machi no yoenai otoko tsuki o miageru nowa koko ja busui

Musim-musim pun mati, satu demi satu, erangan pemusnahan melolong di angin...
Seorang pria yang tak peka terhadap pesona kota melihat ke bulan dan sadari betapa tak murninya ntuh.

doro ni ashi motsureru seikatsu ni ame wa arukooru no aji ga shita
apashii na me de samayou machi de kyodoufushin no inosento ekimae nite

Di antara kehidupan sehari-hari yang tersandung oleh lumpur, hujan ntuh rasanya bak alkohol.
Dengan mata yang penuh dengan keapatisan pas mengembara kota, yang tak berdosa berkumpul di depan stasiun, bertingkah mencurigakan.

boku ga boku to yobu niwa futashika na hantoumei na kage ga ikiteru fuu da
ame ni utaeba kumo wa wakareru ka nigiyaka na natsu no hikarabita inochi da

Demi tegakkan fakta labil "diriku", yang bak bayangan setengah transparan yang t'lah terhidupkan.
Jika kumenyanyi di tengah hujan, akankah awan 'kan bubrah? Hidupku mengering kerontang di tengah-tengah musim panas yang meriah ini.

haikei imawashiki kako ni tsugu zetsuen no shi
saitei na hibi no saiaku na yume no zangai o sutete wa yukezu koko de ikitaeyou to
kousei hana wa saki kimi ni tsutau hensen no shi
kunou ni mamirete nagekikanashimi soredemo todaenu uta ni hi wa sasazu tomo

Duhai masa laluku yang memuakkan, kepadamu kutawarkan puisi perpisahan ini!
Kuharus membuang sisa-sisa hari ini yang tak boleh kian memburuk lagi, pun mimpi-mimpi yang paling mengerikan ini, meski itu bisa membunuhku.
Karena dalam kehidupan berikutnya, bunga 'kan memekar 'tuk kisahkanmu sebuah puisi peralihan.
Sebuah lagu yang penuh dengan penderitaan, dari yang berduka dan mengerang, tapi tak pernah bisa mati... meski kekurangan sinar matahari.

ashita wa tsugitsugi shindeiku seitemo oitsukezu kako ni naru
ikiisoge bokura tomoru hi wa setsuna ikiru imi nado wa ato kara tsuku
kimi ga kimi de iru niwa futashika na fuantei na jiga ga kimi o kiraou to
semete utaeba yami wa hareru ka negusareta yume ni azukatta inochi da

Hari esok 'kan mati, satu demi satu, meski dikau terburu-buru, kau 'kan rindukannya setelah ntuh 'jadi masa lalu,
Tapi, bagi kita yang terburu-buru 'lalui kehidupan, api kita berubah-ubah, dan kita selalu bubuhkan makna setelah fakta.
Demi tegakkan fakta labil "dirimu", egomu yang tak stabil berusaha membencimu.
Diriku dirimu hanya bisa bernyanyi, akankah kegelapan 'kan terhalau? Hidupmu t'lah diserahkan pada mimpi busuk sampai intinya.

haikei imawashiki kako ni tsugu zetsuen no shi
saitei na hibi no saiaku na yume no zangai o sutete wa yukezu koko de ikitaeyou to
kousei hana wa saki kimi ni tsutau hensen no shi
kunou ni mamirete nagekikanashimi soredemo todaenu uta ni hi wa sasazu tomo

Duhai masa laluku yang memuakkan, kepadamu kutawarkan puisi perpisahan ini!
Kuharus membuang sisa-sisa hari ini yang tak boleh kian memburuk lagi, pun mimpi-mimpi yang paling mengerikan ini, meski itu bisa membunuhku.
Karena dalam kehidupan berikutnya, bunga 'kan memekar 'tuk kisahkanmu sebuah puisi peralihan.
Sebuah lagu yang penuh dengan penderitaan, dari yang berduka dan mengerang, tapi tak pernah bisa mati... meski kekurangan sinar matahari.

tsukareta kao ni ashi o hikizutte terikaesu yuuhi ni kao wo shikamete
ikou ka modorou ka nayami wa suru kedo shibaraku sureba arukidasu senaka
sou da ikaneba naranu nani wa nakutomo ikiteyuku no da
bokura wa douse hirotta inochi da koko ni oiteku yo nakenashi no

Dengan wajah lelah, tertatih-tatih, sipitkan mata pada matahari tenggelam yang tercermin...
Kita 'habiskan waktu bertanya-tanya apakah kita harus pergi atau balik pulang. Kuyakin kita akan 'hadapi kesulitan ... tapi setelah keraguan kecil, kita tegakkan tubuh dan kepala 'tuk maju ke depan.
Benar, kita harus melangkah maju! Meski tanpa apa-apa, kita harus terus hidup!
Soalnya, hidup kita hanyalah sepanjang jalan, kita 'kan tinggalkannya di sini seberlanjutnya kita, sekecil apapun ntuh.

haikei ima wa naki kako o omou boukyou no shi
saitei na hibi ga saiaku na yume ga hajimari datta to omoeba zuibun tooku da
douse hana wa chiri rinne no wa ni kaeru inochi
kunou ni mamirete nagekikanashimi soredemo todaenu uta ni hi wa sasazu tomo

Duhai masa laluku yang memuakkan, kepadamu kutawarkan puisi nostalgia ini.
Andai kuangankan hari yang tak boleh kian menburuk, pun mimpi-mimpi yang paling mengerikan ntuh, dikau tampak begitu jauh!
Bunga kita 'kan layu suatu hari nanti, hidup kita pun 'kan kembali ke siklus kehidupan.
Sebuah lagu yang penuh dengan penderitaan, dari yang berduka dan mengerang, tapi tak pernah bisa mati... meski kekurangan sinar matahari.

kisetsu wa tsugitsugi ikikaeru

Musim pun terhidupkan kembali, satu demi satu.

Sumbangan

0 komentar:

Posting Komentar